Mounting di Linux

Januari 6, 2007 at 2:05 pm (Linux)

Pada jaman kegelapan (baca: DOS dan Windows), filesystem biasanya ditandai dengan apa yang dinamakan drive yang masing-masing mendapat satu karakter tersendiri. Drive A dan B lumrahnya untuk disket (floppy disk) sementara drive C, D, E, dan seterusnya adalah untuk hard disk. Ada pula penamaan seperti drive H untuk direktori home atau huruf-huruf drive seperti P, Q, R untuk drive yang dipetakan ke jaringan (network drive). Konsep drive, sebagai salah satu dari karakteristik khas DOS yang masih terpaksa masih diwarisi Windows, tidak dikenal di Linux maupun sistem operasi Unix lainnya. Untuk menjelaskan hal ini, marilah kita sebentar menengok secara lebih rinci bagaimana Linux mengelola file dan mengatur disk.File-file yang jumlahnya bisa segerobak diatur melalui apa yang disebut sebagai filesystem. Tidak lain tidak bukan, filesystem ini mengorganisasi isi dari media penyimpan, apakah itu disket, hard disk, ataupun CD-ROM. Filesystem juga memungkinkan user melakukan manajemen file, antara lain membuat file baru, mengganti nama file, memindah file dari satu tempat ke tempat lain, dan juga menghapus file yang sudah tidak diinginkan (jelas bahwa tanpa fungsi-fungsi seperti ini, tentu saja filesystem tidak menjadi terlalu berguna).

Ada berbagai ragam filesystem. Linux umumnya menggunakan filesystem yang dinamakan ext2. DOS selalu memakai filesystem FAT. Untuk Windows, yang sering didukung adalah filesystem FAT (guna kompatibilitas dengan DOS) atau FAT32, yaitu FAT yang diperluas untuk menangani long-filename sekaligus mengatasi ukuran disk yang cukup besar. Windows NT menggunakan filesystem NTFS yang khusus diciptakan untuk mengakomodasi berbagai fitur Windows NT. Satu jenis filesystem tidak kompatibel dengan yang lainnya. Hal ini berarti tanpa prosedur tertentu sebuah partisi FAT dari DOS tidak akan dikenali begitu saja di Linux. Demikian juga sebaliknya.

Di sistem operasi semacam DOS atau Windows, filesystem dikenali dan diakses melalui drive tertentu. Sebagai contoh, biasanya hard disk yang berisi partisi sistem Windows akan selalui dinamai sebagai drive C. Kemudian bila ada partisi kedua yang berfungsi untuk menyimpan data, maka partisi ini bisa saja menjadi drive D. Demikian seterusnya. Disket, karena diakses melalui floppy-drive, biasanya mendapat drive A atau drive B (tergantung jumlah floppy-drive yang ada).

Dalam istilah sistem operasi, membuat filesystem agar dapat diakses merupakan tindakan yang disebut sebagai mounting. Prosesnya sendiri relatif singkat: memeriksa secara cepat apakah filesystem tersebut valid atau tidak dan selanjutnya mencatat keterangan penting tentang filesystem ini di memori. Catatan ini akan dipergunakan segera setelah filesystem ini mulai digunakan. DOS dan Windows dapat dikatakan melakukan proses mount ini secara otomatis dan transparan terhadap user. Tanpa angin dan hujan, tiba-tiba saja partisi data muncul sebagai drive D. Juga ketika ingin mendaftar file-file di disket, cukup eksekusi perintah dir a: karena dari awal drive A dianggap sebagai floppy.

Linux mengidentifikasi filesystem dengan cara yang berbeda dibandingkan DOS atau Windows. Jika di Windows sebuah filesystem diasosiasikan dengan huruf drive, maka di Linux satu filesystem dipetakan ke direktori tertentu. Yang demikian ini menjadikan Linux lebih fleksibel dibandingkan Windows. Tentu saja hal ini dengan konsekuensi bahwa user mendapat sedikit tambahan beban karenanya.

Bagaimana hingga sebuah filesystem terkait dengan satu direktori ? Di sinilah dibutuhkan perintah mount. Bisa diterka bahwa fungsi dari mount adalah untuk melakukan mounting filesystem yang diinginkan. Sebagai ilustrasi, disket pada floppy-drive bisa saja dipetakan sebagai direktori /floppy, partisi Windows dipetakan ke /windows sementara CD-ROM sebagai /cdrom. Per istilah, nama-nama direktori /floppy, /windows, dan /cdrom disebut sebagai mount point. Bagaimana nama dari mount point ini sendiri sepenuhnya tergantung user. Namakan saja sesukanya, misalnya /disket alih-alih /floppy.

Melakukan mount adalah semudah mengetikkan perintah mount yang diikuti argumen yang tepat. Sebagai contoh, perintah berikut adalah untuk melakukan mount agar disket bisa diakses di /floppy:

mount /dev/fd0 /floppy

Di sini /dev/fd0 menunjuk ke floppy-drive yang pertama (/dev/fd1 untuk yang kedua, demikian seterusnya).

Bagaimana jika partisi Windows yang merupakan partisi pertama di hard disk ingin juga diakses ? Berikut perintahnya:

mount -t vfat /dev/hda0 /windows

Segera setelah perintah mount ini sukses dijalankan, maka file-file yang mulanya hanya ada di partisi Windows sekarang bisa ditengok dari Linux. Perhatikan bahwa /dev/hda0 adalah untuk partisi pertama hard disk utama (primary). Jika Windows yang Anda miliki tidak berada di sini, tentu saja perintah di atas harus disesuaikan dahulu. Catatan: kalau Windows yang digunakan adalah Windows NT, maka vfat harus diganti dengan ntfs.

Sekarang, bagaimana untuk CD-ROM ? Mudah. Simak yang berikut ini:

mount -t iso9660 /dev/cdrom /cdrom -o ro

Sama saja seperti yang sebelumnya, bukan ? Tambahan option -o ro adalah untuk menyatakan bahwa filesystem akan diakses dalam modus readonly.

Sebuah catatan penting: sebelum melakukan mount, pastikan bahwa mount-point sudah dibuat sebelumnya. Misalnya, sebelum memount disket ke /floppy, buat dahulu direktori /floppy (gampang saja yakni dengan mkdir /floppy). Jika direktori ini tidak ada, mount tidak akan berhasil.

Penggunaan umum dari perintah mount adalah:

mount [-t type] device directory [-o option]

Jangan bingung dahulu karena berikut akan dijelaskan lebih detil maksud dari sintaks di atas.

Parameter type menentukan jenis filesystem yang hendak dimount. Beberapa yang dikenal di Linux antara lain ext2 (untuk filesystem ext2), msdos (untuk partisi FAT), vfat (untuk partisi Windows), dan iso9660 (untuk CD-ROM). Bisa juga type ini diisi sebagai auto yang berarti ragam filesystem akan ditentukan secara otomatis. Perhatikan bahwa parameter type ini diapit oleh kurung siku. Sekedar menyegarkan ingatan, hal ini bermakna bahwa type adalah opsional – boleh digunakan boleh juga tidak. Manakala terdapat ketidakpastian, maka gunakanlah perintah ini.

Parameter device menentukan filesystem yang hendak dimount. Biasanya ini adalah /dev/fd untuk disket, /dev/hd untuk hard disk, /dev/cdrom untuk CD-ROM, dan seterusnya.

Parameter directory menunjukkan mount point dari filesystem yang dimount. Sekali lagi, jangan lupa pastikan bahwa direktori ini memang sudah ada dan bisa diakses sebelum perintah mount dijalankan.

Parameter option menspesifikasi option untuk mounting. Seperti sudah diilustrasikan sebelumnya, option ro akan menyebabkan filesystem menjadi read-only. Sebenarnya ada juga option rw (yaitu untuk read-and-write) tetapi karena option ini adalah default, maka tidak perlu ditulis secara eksplisit.

Lagi-lagi berbeda dengan Windows, filesystem yang sudah dimount di Linux harus di-unmount begitu selesai digunakan. Proses unmount adalah kebalikan dari mount. Kini terjadi pelepasan akses terhadap filesystem tersebut. Data-data yang belum tertulis alias masih dalam buffer juga akan permanen dituliskan ke filesystem yang bersangkutan.

Perintah untuk melakukan unmount adalah umount (perhatikan, tanpa huruf ‘n’ setelah huruf pertama ‘u’). Adapun sintaksnya relatif sederhana:

umount mount-point

Misalnya Anda usai mengakses disket yang sebelumnya dimount ke /floppy/, maka perintah yang tepat untuk unmount adalah:

umount /floppy/

Ketika mencoba contoh-contoh di atas, mungkin Anda perlu login sebagai root. Namun demikian, pada dasarnya mount dan unmount dapat dilakukan oleh user biasa. Hal ini sepenuhnya diatur melalui file konfigurasi /etc/fstab. Untuk menerangkan isi file ini, baiklah kita ambil contoh /etc/fstab sebagai berikut:

/dev/hda1   /windows/C ntfs  rw,noauto,user       0 0
/dev/hda5   /windows/D vfat  noauto,user          0 0
/dev/hda6   /          ext2  defaults             1 1
/dev/hda7   swap       swap  defaults             0 2
/dev/cdrom  /cdrom     auto  ro,noauto,user,exec  0 0
/dev/fd0    /floppy    auto  noauto,user          0 0

Masing-masing baris tersusun atas enam buah entri, dipisahkan oleh spasi kosong. Kolom pertama menyatakan device atau filesystem, kolom kedua untuk mount-point dari filesystem tersebut, kolom ketiga tidak lain adalah jenis filesystemnya. Ketiga entri ini tentunya sudah jelas dari deskripsi perintah mount sebelumnya. Kolom keempat adalah option: auto berarti filesystem akan dimount pada saat startup, rw berarti read-and-write, ro untuk read-only, user bermakna user biasa (tidak harus root) juga diijinkan melakukan mount dan unmount filesystem ini. Angka pada kolom ke-5 dan ke-6 masing-masing untuk menspesifikasi apakah filesystem perlu dibackup ketika dilakukan system backup dan apakah harus dilakukan pemeriksaan filesystem saat startup.

Supaya suatu device dapat dimount oleh user biasa, cukup tuliskan user pada kolom ke-4 (option). Jadi langkah-langkahnya adalah: login dahulu sebagai root, buka file /etc/fstab dengan editor favorit Anda, edit sehingga terdapat option user pada device yang diinginkan, dan terakhir jangan lupa simpan filenya. Sekarang loginlah sebagai user biasa dan Anda akan mendapatkan bahwa device yang dimodifikasi sudah bisa dimount (dan juga unmount).

Nah, ternyata mounting dan unmounting tidak begitu susah sama sekali. Malahan, kalau Anda menggunakan distribusi Linux yang baru-baru seperti Mandriva, RedHat , Fedora atau SuSE , hampir semuanya menyisipkan fasilitas mounting secara otomatis. Contohnya, mengklik shortcut Floppy Device yang sudah disiapkan di desktop akan menyebabkan terjadi proses mounting ke /dev/fd0 sekaligus menampilkan isi disketnya. Sama sekali tidak diperlukan campur tangan untuk memount (dan kemudian unmount) secara manual.

Ada juga yang disebut sebagai automount yaitu service yang memungkinkan dilakukannya mounting secara otomatis ketika filesystem mulai digunakan serta unmounting tatkala filesystem tersebut tidak diakses lagi. Service ini disebut sebagai autofs. Pada aneka distribusi Linux, biasanya autofs ini sudah tersedia dan tinggal diaktifkan saja.

Lepas dari apakah sistem Linux Anda mengenal mount secara otomatis ataukah tidak, tidak ada salahnya mengerti dan memahami landasan bekerja mount dan unmount. Selamat ber-mount-ria !

3 Komentar

  1. kemit said,

    thanks gan berkat ini saya tertolong disaat kerjaan

  2. Akhmad Kosala said,

    Oke gaan, makasih yaa😀

  3. Jaren said,

    Makasig om, artikelnya berguna buat saya. Izin untuk share di blog saya ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: